← Kembali ke Blog

Quiet Quitting dalam Hidup: Malas atau Cuma Tahu Batasan?

Admin Skorku
• 📅 04 Nov 2026
Quiet Quitting dalam Hidup: Malas atau Cuma Tahu Batasan?

Pernah gak sih kamu merasa capek banget sama tuntutan hidup yang kayaknya gak ada habisnya? Harus sukses sebelum umur 30, harus punya circle pertemanan yang luas, sampai harus selalu kelihatan bahagia di media sosial. Kalau di dunia kerja ada istilah quiet quitting—alias kerja secukupnya sesuai job desk—ternyata konsep ini juga mulai merambah ke kehidupan sehari-hari, lho.

Tapi, sebenarnya quiet quitting dalam hidup ini fenomena baru yang mengkhawatirkan, atau justru cara sehat kita buat bikin batasan diri (personal boundaries)? Yuk, kita bahas tuntas!

Mengenal Quiet Quitting dalam Kehidupan Nyata

Secara sederhana, quiet quitting dalam kehidupan adalah kondisi di mana kamu memutuskan untuk berhenti memberikan energi ekstra pada hal-hal yang tidak lagi memberikan timbal balik positif. Ini bukan berarti kamu menyerah pada hidup atau depresi, ya. Kamu tetap menjalani aktivitas sehari-hari, tapi dengan level keterlibatan emosional yang jauh lebih terkontrol.

Bayangkan kamu mengurangi porsi kepedulianmu terhadap drama pertemanan, berhenti memaksakan diri datang ke acara yang bikin kamu cemas, atau sesederhana tidak lagi merasa bersalah saat memilih rebahan di akhir pekan alih-alih produktif. Intinya: kamu melakukan porsi "minimal" untuk bertahan hidup tanpa harus mengorbankan kesehatan mentalmu.

Fenomena Baru atau Sekadar Ganti Nama?

Banyak psikolog menilai bahwa quiet quitting dalam kehidupan sebenarnya adalah istilah modern untuk sesuatu yang sudah lama kita kenal: setting boundaries atau menetapkan batasan diri. Dulu, kita mungkin menyebutnya sebagai sikap asertif atau sekadar bersikap bodo amat yang sehat.

Lalu kenapa sekarang viral? Jawabannya adalah karena kita hidup di era hustle culture dan paparan media sosial 24/7. Kita terus-menerus dituntut untuk menjadi versi terbaik dari diri kita, yang akhirnya memicu kejenuhan massal (burnout). Di titik inilah, quiet quitting hadir sebagai bentuk proteksi diri dari ekspektasi sosial yang tidak realistis.

Tanda Kamu Sedang Melakukan Quiet Quitting

Apakah kamu sedang mempraktikkan hal ini tanpa disadari? Coba cek beberapa tanda berikut:

  • Mengurangi Drama: Kamu gak lagi tertarik untuk berdebat di kolom komentar media sosial atau terlibat konflik gak penting di grup WhatsApp keluarga.
  • Prioritas Energi: Kamu mulai menyaring siapa saja orang yang layak mendapatkan waktu dan perhatianmu. Circle pertemananmu mungkin mengecil, tapi terasa lebih berkualitas.
  • Berani Bilang Tidak: Mengatakan "enggak" pada ajakan nongkrong atau proyek sampingan tanpa disertai rasa bersalah yang menghantui semalaman.
  • Menerima Ketidaksempurnaan: Kamu sadar bahwa hidup gak harus selalu tentang pencapaian besar. Menikmati kopi hangat di pagi hari tanpa memikirkan target kerjaan sudah menjadi kemenangan tersendiri.

Menemukan Keseimbangan: Jangan Bablas Jadi Apatis!

Meskipun terdengar sangat membebaskan, ada garis tipis antara menetapkan batasan diri yang sehat dengan jatuh ke dalam sikap apatis atau masa bodoh yang ekstrem. Jika kamu terlalu banyak melakukan quiet quitting pada aspek-aspek penting seperti hubungan asmara atau pengembangan diri, kamu bisa berakhir kesepian dan jalan di tempat.

Kuncinya adalah keseimbangan. Gunakan konsep ini sebagai rem darurat saat kamu merasa lelah, bukan sebagai gaya hidup permanen untuk menghindari tanggung jawab emosional.

Bagaimana denganmu? Apakah kamu tipe orang yang tegas menetapkan batasan, atau justru sering kali mendominasi situasi karena jiwa kepemimpinanmu yang tinggi? Daripada menebak-nebak, yuk cari tahu karakter aslimu lewat kuis seru ini! Coba ikuti Tes Tipe Pemimpin: Kamu Otoriter atau Demokratis? sekarang juga dan bagikan hasilnya ke teman-temanmu!

Bagikan Artikel Ini: 𝕏 💬 f

Penasaran? Yuk Coba Kuisnya!

Uji kemampuanmu di kuis "Tes Tipe Pemimpin: Kamu Otoriter atau Demokratis?" sekarang juga.

Mulai Kuis Sekarang 🚀